Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gg Asma
A. PENGKAJIAN
1) RIWAYAT
KESEHATAN
a. Keluhan
utama
Keluhan utama yang
timbul pada klien dengan asma bronchial adalah dispnea, (bisa sampai berhari
–hari atau berbulan-bulan), batuk dan mengi( pada beberapa kasus lebih banyak
paroksismal)
b. Riwayat
kesehatan dahulu
Terdapat data yang
menyatakan adanya factor predisposisi timbulnya penyakit ini, di antaranya
adalah riwayat alergi dan riwayat penyakit saluran nafas.
c. Riwayat
kesehatan keluarga
Klien dengan asma
bronchial sering kali di dapatkan adanya riwayat penyakit keturunan, tetapi
pada beberapa klien lainnya tidak di temukan adanya penyakit yang sama pada
anggota keluarganya.
B. GENOGRAM
C. PEMERIKSAAN
FISIK
Keadaan umum
Perawat juga perlu
mengkaji tentang kesadaran klien, kecemasan, kegelisaan, kelemahan, suara
bicara, denyut nadi, frekuensi pernafasan, yang meningkat, penggunaan otot-otot
bantu pernafasan, sianosis, batuk dengan lendir lengket, dan posisi istirahat
klien.
·
Inspeksi
Pada klien asma
terlihat adanya peningkatan usahadan frekuensi pernafasan. Inspeksi dada
terutama untuk melihat postur bentuk dan kesimestrisan, adanyapeningkatan
diameter antriorposterior, sifat dan irama penafasan , dan frekuesi pernafasan.
·
Palpasi
Pada palpasi
biasanya kesimetrisan, ekspansi.(mengembang)
·
Perkusi
Pada perkusi di
dapatkan suara normal sampai hipersonor sedangkan diagfragma menjadi datar dan
rendah.
·
Auskultasi
Terdapat suara vesikuler
yang meningkat di sertai dengan ekspirasi lebih dari 4 detik atau lebih 3 kali
inspirasi, dengan bunyi nafas tambahan utama wheezing pada akhir ekspirasi.
· Perawat perlu memonitor dampak asma, meliputi
keadaan hemodinamik seperti nadi, tekanan darah, dll.
· Pada saat inspeksi tingkat kesadaran juga
harusnya di kaji, apakah compos mentis, somnolen, atau koma.
· Pengukuran output urine perlu karena berkaitan
dengan intake cairan, oleh karena itu, perawat perlu memonitor ada tidaknya
oliguria, karena hal tersebut merupakan tanda awal dari syok.
· Perlu juga di kaji bentuk, tugor, nyeri, dan
tanda-tanda infeksi, mengingat hal tersebut juga merangsang serangan asma
(mutaqin,2008)
(mutaqin,2008)
DIAGNOSA
KEPERAWATAN
Diagnosa
1 :
Tidak efektifnya bersihan jalan nafas berhubungan dengan
akumulasi mukus.
Tujuan
:
Setelah di lakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam
Jalan nafas pasien dapt kembali efektif.
Kriteria
hasil :
Sesak
berkurang, batuk berkurang, klien dapat mengeluarkan sputum, wheezing
berkurang/hilang, vital dalam batas normal keadaan umum baik.
Intervensi
:
a. Auskultasi
bunyi nafas, catat adanya bunyi nafas, misalnya : wheezing, ronkhi.
Rasional :
Beberapa derajat spasme bronkus terjadi dengan obstruksi jalan nafas. Bunyi
nafas redup dengan ekspirasi mengi (empysema), tak ada fungsi nafas (asma
berat).
b. Kaji
/ pantau frekuensi pernafasan catat rasio inspirasi dan ekspirasi.
Rasional :
Takipnea biasanya ada pada beberapa derajat dan dapat ditemukan pada penerimaan
selama strest/adanya proses infeksi akut. Pernafasan dapat melambat dan
frekuensi ekspirasi memanjang dibanding inspirasi.
c. Kaji pasien untuk posisi yang aman, misalnya
: peninggian kepala tidak duduk pada sandaran.
Rasional :
Peninggian kepala tidak mempermudah fungsi pernafasan dengan menggunakan
gravitasi.
d. Observasi karakteristik batuk, menetap, batuk
pendek, basah. Bantu tindakan untuk keefektipan memperbaiki upaya batuk.
Rasional :
batuk dapat menetap tetapi tidak efektif, khususnya pada klien lansia, sakit
akut/kelemahan.
e. Berikan
air hangat.
Rasional
: penggunaan cairan hangat dapat menurunkan spasme bronkus.
f. Kolaborasi
obat sesuai indikasi.
Bronkodilator
spiriva 1×1 (inhalasi).
Rasional
: Membebaskan spasme jalan nafas, mengi dan produksi mukosa.
Diagnosa
2 :
Tidak efektifnya pola nafas berhubungan dengan penurunan
ekspansi paru.
Tujuan
:
Setelah di lakukan tindakan keperawatan selama 4 x 24 jam
Pola nafas pasien dapat kembali efektif.
Kriteria
hasil :
Pola nafas
efektif, bunyi nafas normal atau bersih, TTV dalam batas normal, batuk
berkurang, ekspansi paru mengembang.
Intervensi
:
1. Kaji
frekuensi kedalaman pernafasan dan ekspansi dada. Catat upaya pernafasan
termasuk penggunaan otot bantu pernafasan / pelebaran nasal.
Rasional : kecepatan biasanya
mencapai kedalaman pernafasan bervariasi tergantung derajat gagal nafas.
Expansi dada terbatas yang berhubungan dengan atelektasis dan atau nyeri dada
2. Auskultasi bunyi nafas dan catat adanya bunyi nafas
seperti krekels, wheezing.
Rasional :
ronki dan wheezing menyertai obstruksi jalan nafas / kegagalan pernafasan.
3. Tinggikan kepala dan bantu mengubah posisi.
Rasional :
duduk tinggi memungkinkan ekspansi paru dan memudahkanpernafasan
4. Observasi pola batuk dan karakter sekret.
Rasional :
Kongesti alveolar mengakibatkan batuk sering/iritasi.
5. Dorong/bantu pasien dalam nafas dan latihan batuk.
Rasional : dapat meningkatkan/banyaknya
sputum dimana gangguan ventilasi dan ditambah ketidak nyaman upaya bernafas.
6. Kolaborasi
-Berikan
oksigen tambahan
- Berikan
humidifikasi tambahan misalnya : nebulizer
Rasional : memaksimalkan bernafas
dan menurunkan kerja nafas, memberikan kelembaban pada membran mukosa dan
membantu pengenceran sekret.
Diagnosa
3 :
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.(dlm
beraktivitas)
Tujuan
:
Selama tindakan
keperawatan 5 x 24 jam Klien
dapat melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri.
Kriteria
hasil :
KU klien
baik, badan tidak lemas, klien dapat beraktivitas secara mandiri, kekuatan otot
terasa pada skala sedang
Intervensi
:
1. Evaluasi respons pasien terhadap
aktivitas. Catat laporan dyspnea peningkatan kelemahan/kelelahan dan perubahan
tanda vital selama dan setelah aktivitas.
Rasional : menetapkan kebutuhan/kemampuan
pasien dan memudahkan pilihan intervensi.
2.
Jelaskan pentingnya istirahat dalam
rencana pengobatan dan perlunya keseimbangan aktivitas dan istirahat.
Rasional : Tirah baring dipertahankan
selama fase akut untuk menurunkan kebutuhan metabolik, menghemat energi untuk
penyembuhan.
3.
Bantu pasien memilih posisi nyaman
untuk istirahat dan atau tidur.
Rasional : pasien mungkin nyaman dengan
kepala tinggi atau menunduk kedepan meja atau bantal.
4.
Bantu aktivitas keperawatan diri yang
diperlukan. Berikan kemajuan peningkatan aktivitas selama fase penyembuhan.
Rasional :meminimalkan kelelahan dan
membantu keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen.
5.
Berikan lingkungan tenang dan batasi
pengunjung selama fase akut sesuai indikasi.
Rasional : menurunkan stress dan
rangsangan berlebihan meningkatkan istirahat.
Evaluasi
a. Jalan nafas kembali
efektif.
b. Pola nafas kembali
efektif.
c. Klien dapat
melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar